Laporan Gulma
LAPORAN
MK. PENGENDALIAN GULMA (AGH 321)
KOEFISIEN KOMUNITAS
KELOMPOK 4
Rifka A24140127
Asisten :
Bayu
Pramahdyan A24120070
Dosen :
Dwi Guntoro
Muhammad Ahmad Chozin
Adolf Pieter Lontoh
Sofyan Zaman
Edi
Santosa

DEPARTEMEN
AGRONOMI DAN HORTIKULTURA
FAKULTAS
PERTANIAN
INSTITUT
PERTANIAN BOGOR
2016
BAB
I
PENDAHULUAN
Latar
Belakang
Gulma merupakan tanaman liar yang kehadirannya tidak
dikehendaki pada suatu lahan pertanian. Gulma mempunyai kemampuan beradaptasi
dengan lingkungan sehingga sering merugikan tanaman budidaya. Gulma
merupakan salah satu faktor biotik penghambat untuk memperoleh hasil panen yang
tinggi dalam suatu sistem budidaya tanaman. Gulma menyaingi tanaman dalam
pengambilan unsur hara, air, ruang, CO2 dan cahaya. Sifat
gulma umumnya mudah beradaptasi dengan lingkungan yang berubah dibandingkan
dengan tanaman budidaya.Daya adaptasi dan daya saing yang kuat merupakan sifat
umum gulma (Tjirtosoedirdjo et. al.
1984).
Gulma dibedakan menjadi tiga golongan yaitu rumput-rumputan
(grasses), teki (sedges) dan golongan berdaun lebar (broad leaves). Gulma merupakan salah
satu faktor penting yang dapat mempengaruhi produksi dan produktivitas
pertanian.Gulma menjadi pesaing kuat bagi tanaman dalam pemanfaatan sarana
tumbuh seperti hara, air, dan cahaya (Syafei 1990).
Koefisien komunitas bertujuan untuk menilai adanya variasi atau kesamaan
dari berbagai komunitas dalam suatu area.
Tingkat kesamaan atau perbedaan komuniti gulma pada suatu daerah dapat
dibandingkan dengan menghitung koefisien komunitas (Pasau P et.al 2012). Persentase
hasil koefisien komunitas (C) yang mempunyai nilai kecil (dibawah 70%) artinya
banyak perbedaan keadaan vegetasinya, jadi perlu adanya perbedaan dalam
strategi pengendalian gulma. Data yang diperoleh dari analisis vegetasi dibagi
menjadi dua jenis, yaitu data kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif
yaitu data yang menunjukkan bagaimana suatu jenis tumbuhan tersebar dan
berkelompok. Sedangkan data kualitatif merupakan data yang menyatakan jumlah,
ukuran, berat basah/kering suatu jenis, dan luas daerah yang ditumbuhinya
(Barus 2003).
Oleh karena itu, pelaksanaan praktikum analisis vegetasi dan perhitungan
koefisien komunitas perlu
dilakukan guna mengetahui macam-macam gulma yang hidup mendominasi di suatu
area serta mengetahui tingkat homogenitas gulma pada dua komunitas vegetasi dari
dua areal yang berbeda sehingga
tingkat homogenitas dapat dibandingkan antara dua komunitas
tersebut dan dapat dijadikan
acuan untuk dilakukan pengendalian gulma secara efektif.
Tujuan
Tujuan praktikum ini untuk memperkenalkan kepada
mahasiswa cara mengidentifikasi jenis gulma dominan serta mengetahui tinkat
homogenitas pada dua komunitas vegetasi dari dua areal sehingga usaha
pengendalian dapat dilakukan secara efektif.
BAB II
HASIL DAN PEMBAHASAN
HASIL
|
Tabel 1. Nilai Kerapatan Mutlak (KM) berdasarkan analisis
vegetasi dari dua komunitas
|
||||
|
Spesies
|
Komunitas A (Kopi)
|
Komunitas B (Kelapa Sawit)
|
||
|
1
|
No
|
31
|
4
|
|
|
2
|
Ottochloa nodosa
|
3350
|
2090
|
|
|
3
|
Axonopus compressus
|
595
|
326
|
|
|
4
|
Eleusin indica
|
10
|
0
|
|
|
5
|
Paspalum conjugatum
|
417
|
49
|
|
|
6
|
Commelina diffusca
|
38
|
0
|
|
|
7
|
Cyrtococcum patens
|
354
|
194
|
|
|
8
|
Rostellularia rundana
|
32
|
10
|
|
|
9
|
Paspalum comersonii
|
59
|
16
|
|
|
10
|
Borreria alata
|
105
|
3
|
|
|
11
|
Rostularia sp.
|
18
|
0
|
|
|
12
|
Cleome rutidospermae
|
1
|
5
|
|
|
13
|
Paspalum sp.
|
114
|
0
|
|
|
14
|
Ricardia bracilensis
|
17
|
0
|
|
|
15
|
Commelina beghalensis
|
1
|
27
|
|
|
16
|
Asystasia intrusa
|
7
|
23
|
|
|
17
|
Melastoma malabathricum
|
8
|
14
|
|
|
18
|
Tetracera indica
|
7
|
31
|
|
|
19
|
Cromolaena odorata
|
2
|
1
|
|
|
20
|
Oxalis barrelieri
|
3
|
0
|
|
|
21
|
Arachis pintoi
|
1
|
0
|
|
|
22
|
Emilia sonchifolia
|
2
|
0
|
|
|
23
|
Ageratum conyzoides
|
6
|
2
|
|
|
24
|
Leguminoceae
|
12
|
0
|
|
|
25
|
Tedryosis sp.
|
4
|
0
|
|
|
26
|
Cyperus sp.
|
2
|
0
|
|
|
27
|
Setaria plicata
|
0
|
24
|
|
|
28
|
Rotboellia exaltata
|
0
|
4
|
|
|
29
|
Paku
|
0
|
30
|
|
|
30
|
Passiflora foetida
|
0
|
3
|
|
|
31
|
Alternanthera brasiliana
|
0
|
1
|
|
|
32
|
Sida rhombifolia
|
0
|
13
|
|
|
33
|
Centoteca lappaceae
|
0
|
2
|
|
|
34
|
Pennisetum polystachyon
|
0
|
1
|
|
|
35
|
Mimosa pudica
|
0
|
4
|
|
|
36
|
Clibadium surinamense
|
0
|
7
|
|
|
37
|
Ipomoea sp.
|
0
|
29
|
|
|
38
|
Tedryosis
|
0
|
1
|
|
|
39
|
Clidemia hirta
|
0
|
5
|
|
|
40
|
Brachiaria mutica
|
0
|
77
|
|
|
41
|
LCC
|
0
|
1
|
|
|
42
|
Nephrolepis cordifolia
|
0
|
1
|
|
|
43
|
Thedriopsis
|
0
|
4
|
|
|
44
|
Erechtites valerianifolia
|
0
|
4
|
|
|
45
|
Elaesis genesis
|
0
|
16
|
|
|
46
|
Scleria sumatraensis
|
0
|
10
|
|
|
47
|
Sidrom bifloria
|
0
|
3
|
|
|
48
|
Lantana camara
|
0
|
1
|
|
|
49
|
E. Sumatraensis
|
0
|
2
|
|
|
Total
|
5196
|
3038
|
||
Cara perhitungan
C
> 70 % artinya heterogen
PEMBAHASAN
Nilai koefisien komunitas atau indeks kesamaan suatu
jenis gulma merupakan nilai yang menunjukkan tingkat homogenitas komunitas
gulma pada lokasi yang berbeda. Lokasi kebun yang di amati yaitu kebun kopi (
komunitas A) dan kebun kelapa sawit (komunitas B). Koefisien komunitas digunakan untuk
menilai adanya variasi atau kesamaan dari berbagai komunitas dalam suatu area.
Tingkat kesamaan atau perbedaan komuniti gulma pada suatu daerah dapat
dibandingkan dengan menghitung koefisien komunitas (Pasau P et.al.2012 ).
Keragaman gulma
dan tingkat homogenitas gulma di suatu areal disebabkan oleh beberapa faktor
antara lain jenis tanah, ketinggian tempat, pola kultur teknis dan kelembaban
tanah. Jenis tanah mempengaruhi komposisi gulma pada suatu areal. Tanah alluvial
didominasi oleh gulma golongan teki-tekian
sedangkan gulma daun lebar lebih banyak terdapat pada tanah podsolik
(Nasution U 1986). Ketinggian tempat
mempengaruhi keragaman gulma yang tumbuh pada suatu areal. Gulma pada
ketinggian 0-30 m dpl lebih banyak ditumbuhi jenis gulma golongan teki
sedangkan pada ketinggia 30-100 m dpl di dominasi oleh gulma jenis rumput. Pola
kultur teknis yang dapat mempengaruhi sifat komunitas gulma di suatu areal
antara lain intensitas naungan, adanya tanaman penutup tanah, cara pengendalian
gulma, pemupukan, drainase dan sebagainya. Tingkat kemasaman (pH) tanah
mempengaruhi keragaman jenis gulma (Tanasale 2012). Kelembaban tanah
mempengaruhi populasi gulma di suatu areal, kondisi tajuk yang rapat menyebabkan
intensitas cahaya tidak sampai pada permukaan tanah sehingga kelembaban tanah
semakin tinggi. Gulma yang mendominasi adalah gulma jenis paku-pakuan.
Praktikum ini dilakukan perhitungan Koefisien
komunitas (C) atau indeks kesamaan sebagai parameter untuk membandingkan dua komunitas
vegetasi dari dua areal. Parameter yang digunakan adalah nilai Kerapatan Mutlak (KM).
Nilai kerapatan mutlak digunakan untuk menunjukkan jumlah individu atau spesies
gulma pada suatu areal tertentu. Selain itu, nilai tersebut menunjukkan tingkat
penguasaan suatu jenis gulma dalam lingkungannya (Nasution U 1986).
.
Nilai koefisien kesamaan komunitas
berkisar antara 0-100 %. Semakin mendekati nilai 100%,
keadaan tegakan yang dibandingkan mempunyai kesamaan yang tinggi atau nilai
koefisien >70% atau =70% maka antara dua
komunitas tingkat homogenitasnya tinggi.
Berdasarkan hasil perhitungan data diperoleh nilai koefisien komunitas dari 49 spesies pada dua komunitas vegetasi di kebun kopi dan kelapa
sawit sebesar 33.02 %.Kedua komunitas tersebut dapat dinyatakan seragam
apabila nilai C > 70%
(Sukman
Y 2002). Akan tetapi,
persentase yang di dapat kurang dari 70 %. Hal ini dapat disimpulkan bahwa vegetasi gulma yang
berada pada kedua komunitas (kebun kopi dan Kelapa
Sawit) bersifat heterogen. Oleh karena itu, cara pengendalian dan aplikasi
herbisida terhadap dua komunitas tersebut berbeda.
BAB III
KESIMPULAN
Koefisien komunitas dapat memberikan
pengetahuan tingkat homogenitas suatu gulma pada areal yang berbeda. Berdasarkan
hasil pengamatan dan perhitungan, gulma pada dua komunitas vegetasi (Kebun kopi
dan kelapa sawit) bersifat heterogen artinya cara pengendalian dengan herbisida
harus berbeda. Hal ini dapat di simpulkan berdasarkan nilai koefisien komunitas
( C) kurang dari 70 %.
SARAN
Mahasiswa dan
asisten praktikum harus mengetahui jenis-jenis gulma pada lahan yang diamati
sehingga identifikasi gulma menjadi lebih mudah dan cepat. Mahasiswa harus
melihat secara langsung semua jenis gulma yang ada sehingga dapat
dibedakan.
Semoga bermanfaat,,,
DAFTAR PUSTAKA
Barus E.2003.Pengendalian Gulma di Perkebunan.Yogyakarta(ID):Kanisius
Nasution
U.1986.Gulma dan Pengendaliannya di
Perkebunan Karet Sumatera Utara dan Aceh.Medan(ID):Pusat Penelitian dan
Pengembangan Perkebunan
Pasau P, Yudono P, Syukur A.2012.Pergeseran komposisi
gulma pada perbedaan proporsi populasi jagung dan kacang tanah dalam tumpangsari
pada regosol Sleman.Jurnal Ilmu Pertanian.16(2):60-78
Sukman Y dan
Yakup.2002.Gulma dan Teknik
Pengendaliannya.Jakarta(ID):PT Raja Grafindo Persada
Syafei dan Eden
S.1990.Pengantar Ekologi Tumbuhan.Bandung(ID):ITP
Press
Tanasale
VL.2012.Studi komunitas gulma di pertanaman Gandaria (Bouea macrophylla Griff.) pada tanaman belum menghasilkan dan
menghasilkan di Desa Urimessing Kecamatan Nusaniwe Pulau Ambon.Jurnal Budidaya Pertanian.8(2):7-12
Tjitrosoedirdjo
SH dan Wiroatmodjo J.1984.Pengelolaan
Gulma di Perkebunan.Jakarta (ID):PT Gramedia
Semoga bermanfaat..
BalasHapus